Fiuh..
Ternyata hubungan antar manusia itu ga ada yang sederhana ya. Semakin bertambah pemahaman, semakin banyak juga yang dipertimbangkan. Semakin banyak yang dirisaukan, ditakutkan, dibenci, dicurigai. Pantas, dulu ada anak astronomi yang mengambil kuliah neurofisiologi di biologi. Ingin membandingkan kompleksitas antariksa dengan sistem saraf, katanya. Jangan jauh2 deh, coba bandingkan satuu aja bagian otak, yaitu lobus temporal dalam mengendalikan mood, atau korteks prefrontal yang mengendalikan emosi
Huih speak of emotion..
Saya kembali melakukan kebodohan telak dengan disfungsi kontrol emosi di saat yang kurang tepat. Baru aja Lebaran, lewat 2 hari saya udah marah-marah ama pacar saya. Alasannya juga cukup bodoh, yaitu : 1. Blackberry Messenger, 2. Twitter.
Yang pertama adalah, saya ga sengaja liat ada kontak mantan si pacar di list BBM-nya. Awalnya saya cuma kaget doang, ngapain ngeadd segala, penting ya? Kenapa ga sms-an aja. Tapi kemudian saya pikir, si pacar kan kerjaannya dagang. Alasan dia beli bb juga buat mempermudah komunikasi, terutama dengan konsumen. Ya, dan saya juga yakin keduanya ga akan macem2.
Kedua, sungguh ini alasan super norak. Gara-gara twitter. Honestly, I feel like a dumb-ass writing it down. Cuma gara-gara dia lebih sering membalas mention dari seorang perempuan lain, dibanding saya. Perempuan itu dulu pernah dia puji setinggi dia bisa. Perempuan cantik yang komentarnya selalu menyenangkan, bahkan menurut saya pun begitu. Perempuan yang pernah dia kejar, tapi gagal, dan terus berteman dengan baik hingga saat ini. Ini, dari awal saya sudah kesal. Kesal karena kalah menerima perhatian
Dua hal itu awalnya saya kesampingkan di pojok, dead spot otak saya. Karena saya tau, jika saya terus memikirkannya, semuanya akan berkembang tanpa batas.
Tapi pemikiran rasional saya kalah dengan suara sumbang dalam diri saya. “Bego kamu, ga mikir apa si mantan dan si prempuan itu track recordnya kaya apa?” ditambah dengan sedikit saja kecemburuan : boom! Pikiran saya meledak menghasilkan berbagai skenario mulai dari yang paling netral, hingga paling provokatif.
Yang paling provokatif tentu saja negatif. Saya pikir dia berusaha kembali menghubungi si mantan. Dan di twitter, dia ingin membuat statement pada teman-temannya mengenai si perempuan itu, ingin terlihat “lebih” karena perempuan itu lebih menyenangkan, tidak seperti saya yang selalu mengalami “awkward moment” berkali-kali dengan temannya.
Saya lebih meledak lagi saat mengirim rentetan bbm yang memojokkan dia. Saya bahkan tidak mau mengangkat teleponnya. Karena saya tau saya tidak memiliki perkataan yang jitu untuk membenarkan kekhawatiran saya. Saya lebih memilih untuk membuat masalah ini mengambang, di batas khayal yang hanya saya yang tau. Saya sempat berpikir dia akan menjadi sangat bingung dengan permintaan tanpa penjelasan cukup yang saya kemukakan. Dengan semua kemarahan saya yang tidak beralasan
Lalu semuanya bisa berakhir (lewat bbm tentunya, saya masih belom berani angkat tlp x_x), karena dia terus menerus begging, memohon maaf. Dan tentu saja diakhiri dengan dihapusnya kontak bb si mantan, dan di-blocknya si perempuan itu. Lalu, saya menunggu perasaan lega atau setidaknya saya berkata “Gosh, I’m so relieved..”
Not even close. Saya samasekali tidak lega, saya malah takut. Dan malu, sangat malu. Saya ngapain sih?? Saya merunut ulang semua alasan kemarahan saya, dan tidak menemukan apapun yang bisa menjadi pembenaran.
Saya sedih sudah membuat dia merasa tidak dipercaya, membuat dia merasa tidak nyaman untuk menghubungi kembali perempuan itu, bahkan sekedar untuk berbagi joke. Such an asshole I am. Dia sudah banyak bertoleransi, memberikan saya ruang untuk tetap menjaga pertemanan dengan teman lelaki, bahkan untuk berinteraksi dengan mantan. Dia sudah menekan egonya sebesar mungkin, dan memperbesar hatinya untuk bersikap toleran. Saya malah membatasi pertemanannya, cuma karena cemburu. Rasanya saya ingin menampar keras-keras dan berteriak “What’s the point???” pada diri saya sendiri. Saya ingin meminta maaf dan mengembalikan semuanya seperti semula, tapi rasanya ga mungkin. Yang tersisa hanya sesal. Iya, saya tau, ga ada gunanya.
Tapi mengingat apa yang saya rasakan kemarin, sungguh sulit sekali untuk berpikir jernih. Bahkan untuk mendengarkan suara kecil dalam kepala saya yang terus mengatakan bahwa tindakan saya salah. I was hijacked by the rage, i couldn’t think straight. The silly, childish rage. Padahal beberapa jam sebelum mengirim bbm ngamuk itu, saya membaca quote dari seseorang bahwa “Kemarahan pada akhirnya hanya akan berakhir dengan rasa malu”. Saya iya-iya aja, mangut-mangut sok ngerti, prakteknya sih nanti dulu
Pantes yah puasa pahalanya gede banget. Taqwa. Berarti puasa saya selama ini belum berhasil, karena saya masih belum bisa mengintegrasikan pikiran dan tindakan saya.
Ah saya sedih, berbuat kebodohan destruktif kaya gini

It's just emotion, taking me over




